Kegiatan Kampus

Seminar Deteksi Dini Tiroid , STIK Sint Carolus

February 21, 2017 | By : Admin


Angka kejadian penderita gangguan tiroid semakin meningkat di dunia menurut WHO, diperkirakan 750 juta penduduk dunia mengalami gangguan tiroid, angka ini dapat melebihi prevalensi diabetes nantinya. Prevalensi gondok nodular meningkat seiring bertambahnya usia dari 2,7% menjadi 8,7% pada wanita dan 2% menjadi 6,7% pada pria dengan rentang usia 26-30 tahun. Sedangkan usia 36-40 tahun dapat meningkat menjadi 14,1% wanita dan 12,4% pria. Untuk usia 45-50 tahun dapat mencapai 18% pada wanita dan 14,5% pada pria (Wolters Health, 2013; Reiners, 2004).  Komplikasi tiroid yakni karsinoma tiroid menempati urutan ke-9 dari sepuluh keganasan tersering. National Cancer Institute melaporkan dari 100.000 jiwa ditemukan karsinoma tiroid sebesar 12,9% per tahun baik pria maupun wanita dengan angka kematian yaitu 0,5%.

Indonesia sendiri menduduki peringkat tertinggi di Asia Tenggara dalam gangguan tiroid yakni 1,7 juta jiwa (survey IMS Health, 2015). Hipertiroid sebesar 12,8% pada pria dan 14,7% pada wanita (RISKERDAS 2007). Didapatkan juga data pada usia 15 tahun ke atas terdapat hipertiroid 0,4% dari 176.689.336 jiwa yakni 700 ribu jiwa (RISKERDAS 2013). Menurut data dari Unit Koordinasi Kerja Endokrinologi anak Kemenkes RI yakni sejak tahun 2000 - 2014 dari 213.669 bayi baru lahir yang dilakukan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) didapatkan hasil positif sejumlah 85 bayi atau 1 : 2.736 kelahiran, lebih tinggi dari rasio global (1:3000 kelahiran) artinya dalam 5 juta kelahiran bayi per tahun terdapat 1.600 bayi menderita hipotiroid yang dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang bahkan keterbelakangan mental. Gangguan tersebut karena ketidakseimbangan tiroid yang terjadi pada manusia.

Manusia perlu menjaga keseimbangan hormon tiroid yang pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni; asupan iodium, asupan zat besi, faktor stres, faktor genetik, dan konsumsi obat – obatan yang berkaitan dengan denyut jantung. Asupan iodium merupakan unsur pokok dalam pembentukan hormon tiroid, sehingga harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup dan berkesinambungan (PERKENI,2008). Ketidakseimbangan yang terjadi dapat berupa hormon tiroid yang berlebih maupun hormon tiroid yang kurang. Pendeteksian dini merupakan upaya pertama dalam pencegahan maupun penangulangan gangguan tiroid, seperti yang dilakukan oleh salah satu organisasi Tiroid internasional yakni American Thyroid Association (ATA) merekomendasikan U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF) dalam deteksi dini gangguan pada tiroid. USPSTF merupakan tindakan screening yang meliputi pengambilan kadar TSH. UPSTF direkomendasikan bagi mereka yang berusia dari 35 tahun yang di follow up setiap 5 tahun sekali ( ATA,2014).

Di Indonesia sendiri pada tahun 2015 pada Pekan Peduli Tiroid Internasional menyatakan bahwa kebijakan pemerintah mengutamakan upaya promotif dan preventif dalam penanggulangan masalah gangguan tiroid yang harus diimplementasikan bersama antara pemerintah dan seluruh komponen masyarakat dengan cara deteksi dini secara awal dan upaya promotif ke seluruh lapisan masyarakat (KEMENKES, 2015). Salah satunya yakni upaya skrining hipotiroid kongenital yang dilakukan terhadap bayi baru lahir berumur 48 jam – 72 jam yang tertuang dalam PERMENKES No: 78 tahun 2014.

Untuk itu upaya pencegahan dan penanggulangan yang dilakukan tersebut akan mempermudah pengobatan dan perawatan serta meminimalkan terjadinya komplikasi dari gangguan tiroid itu sendiri.

Kegiatan ini dilaksanakan pada :

Hari, Tanggal      : Sabtu, 04 Februari 2017

Waktu                : 08.00 – 15.00 WIB

Tempat              : Auditorium Gedung A Lantai 8 Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta Pusat

   

                   

Pembicara

Laurentius Aswin Pramono, Sp.PD

Gita Ardelia Suhartono, S.Gz., M.Gizi.

Maria Lousiana Suwarno, S.Kep., M. Biomed

Elisabeth Isti Daryati, S.Kep., MSN

Esther Lenny Dorlan Marisi, S.Kep